Senin, 28 Februari 2011

sejarah kimono



Kimono adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).

Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta.

Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode.[1] Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).

Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode). Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.

Sebagai pembeda dari pakaian Barat (yōfuku) yang dikenal sejak zaman Meiji, orang Jepang menyebut pakaian tradisional Jepang sebagai wafuku (和服?, pakaian Jepang). Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah gofuku (呉服?). Istilah gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan Cina.

source : wikipedia

50 ekspresi changmin :)

Senin, 21 Februari 2011

PEMBATASAN BBM DAN AKIBATNYA BAGI PERDAGANGAN

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah
BBM (Bahan Bakar Minyak) merupakan hal yang sudah lazim digunakan oleh masyarakat. BBM adalah Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbaharui, dan apabila digunakan secara terus- menerus BBM akan habis. Oleh sebab itu kita harus menggunakanya secara bijaksana. Sebelum BBM itu habis, pemerintah harus memikirkan cara untuk pengganti BBM. Beberapa waktu yang lalu diberitakan bahwa para ilmuan indonesia telah mnemukan biopremium dan biodisel ,yang bisa menggantikan bensin dan solar tersebut

B. Identifikasi masalah (latar belakang)
Sesuai dengan judul makalah “Pembatasan BBM dan akibatnya bagi perdagangan“ maka masalah yang dapat diidentifikasikan dari sini adalah bagaimana cara pemerintah untuk membatasi BBM tersebut agar ridak cepat habis dan supaya generasi yang akan datang dapat menikmatinya juga.

C. Rumusan masalah

Masalah- masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana pembatasan BBM dapat berdampak pada inflasi ?
2. Bagaimana cara pemerintah menghadapi pembatasan BBM ?


BAB II

PEMBAHASAN

Apabila selama ini para pengendara selalu menyalahkan konsumsi BBM mobil atau motor boros bahan bakar minyak ternyata itu salah. Perilaku pengemudi yang menentukan irit atau tidaknya konsumsi BBM. Dan 60 persen perilaku pengemudi-lah yang menentukan irit atau tidak konsumsi BBM.
"Tanpa disadari 60 persen perilaku mengemudi sangat menentukan konsumsi BBM agar lebih irit. 40 persen faktor lain seperti jalan macet, tanjakan dan turunan," Sehingga menurut Suwadji sudah saatnya pengendara mengubah pola mengemudi. Pengemudi harus mengatur emosi ketika berada di jalan dan berupaya mengatur pijakan pedal gas.
"Ubah pola mengemudi. Seperti menjaga putaran mesin di 3.000 rpm," sarannya.
Dengan itu lanjutnya kita tidak lagi mendapatkan konsumsi BBM kendaraan yang boros. Pengemudi harus cermat dengan hal itu. Dan saat ini sudah sepantasnya pengemudi cermat akan hal itu.

Pembatasan BBM bisa berdampak inflasi
Bandung -Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan kebijakan yang akan diambil pemerintah terkait pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada awal tahun 2011 dapat memicu terjadinya inflasi. Jika pembatasan itu hanya untuk kendaraan berplat hitam (kendaraan pribadi) akan terjadi inflasi langsung (direct inflation), namun jika pembatasan itu juga berlaku bagi kendaraan berplat kuning bisa terjadi inflasi secara keseluruhan.

Kepala BPS Rusman Heriawan menyatakan jika nantinya pembatasan BBM bersubsidi bagi plat hitam diberlakukan dapat berpengaruh pada tingkat konsumsi rumah tangga yang membuat terjadinya inflasi secara langsung.
"Konsumsi BBM bagi rumah tangga pemilik kendaraan berplat hitam pasti terjadi dan bersifat langsung, tidak akan ada dampak berkelanjutan bagi inflasi lainya. Berbeda jika diberlakukan bagi kendaraan berplat kuning, inflasi akan terjadi diawali dari naiknya ongkos angkutan," kata dia usai acara MoU dejigan Bank Indonesia di Kantor Bank Indonesia (KBI),

.Inflasi baru akan terasa diberbagai aspek jika temyata pembatasan juga berlaku pada angkutan umum. Karena seperti biasanya, jika ongkos angkutan naik maka harga barang-barang terutama kebutuhan pokok yang distribusikannya menggunakan angkutan umum dipastikan akan naik. Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah menyiapkan dua opsi untuk mekanisme pengaturan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada tahun depan. Opsinya antara larangan menggunakan BBM bersubsidi untuk semua mobil plat hitam atau mobil di atas tahun 2005.
Hal itu dilakukan seiring terus meningkatnya konsumsi BBM akibat meningkatnya pertumbuhan kendaraan. Akibatnya, konsumsi BBM pada tahun 2010 ini saja sudah melebihi jatah APBN. Untuk tahun ini saja, konsumsi BBM diprediksi melonjak menjadi 38 juta kilo liter, di atas jatah APBN 2010 sebanyak 36,5 juta kiloliter. Tanpa pembatasan BBM bersubsidi pada tahun 2011, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memperkirakan konsumsi akan me-ningkat lagi sebanyak 10%.

BAB III

PENUTUP

Demikianlah makalah ini saya buat, semoga berguna bagi para pembacanya.

KESIMPULAN

BBM memang berdampak pada suatu perdagangan, karena pembatasan BBM itu juga berlaku pada angkutan-angkutan umum. Seperti biasanya, jika ongkos angkutan naik maka harga barang-barang terutama kebutuhan pokok yang distribusikannya menggunakan angkutan umum dipastikan akan naik juga.

Source : kompas

Sabtu, 19 Februari 2011

lyric wasurenaide by Tohoshinki

BEDDO ni suwatte kimi no koto wo kangaeteita
Aenakute mo ii aitai kono kimochi dake de ii kara

Tsuyoku nokotteiru kioku kimi kara no mijikai MESSEEJI ga
Setsunaku mune shimetsukeru kedo towa no shiawase boku ga mamoritsuzuketai

chorus : Kaze ni natte sotto tsutsumitai
Kimi ga iru sekai ni sugu tonde yukitai
Aitakute mo aitakute mo
Matteru kara tada wasurenaide

Itsumo no hodou ni kimi no kage wo kanjiteita
Shizuka ni mi wo toji inoru itsumademo kienai you ni

Fukaku kizutsuiteita koto kizukasezu waratteita kimi ni
Zutto taisetsu ni suru kara sakebitsuzukeru arifureta kotoba demo

chorus : Kaze ni natte sotto tsutsumitai
Kimi ga iru sekai ni sugu tonde yukitai
Aitakute mo aitakute mo
Matteru kara tada wasurenaide


Kimi ni fureta yoru kowareteshimau hodo ni
Tadayou kaori ni mata omoi ga tsunoru baby

Itsumademo hatenai you ni
Motto tsuyoku tsunaida te hanarenai you ni

Kaze ni natte sotto tsutsumitai
Kimi ga iru sekai ni sugu tonde yukitai
Aitakute mo aitakute mo
Matteru kara matteru kara

chorus : Kaze ni natte sotto tsutsumitai
Kimi ga iru sekai ni sugu tonde yukitai
Aitakute mo aitakute mo
Matteru kara tada wasurenaide


Koko ni iru yo wasurenaide

Angka Kemiskinan Terus Turun

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pusat Statistik menegaskan, angka penduduk miskin di Indonesia sejak tahun 2006 terus menurun meski jumlah penduduk hampir miskin juga besar. "Sejak 2006, data penduduk miskin turun dari 39,3 juta menjadi 31,02 juta dengan memakai garis kemiskinan, yaitu garis kemiskinan makanan dan nonmakanan," kata Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, Kamis (17/2/2011).
Kecuk mengatakan bahwa penjelasannya itu sekaligus membantah pernyataan dari sejumlah tokoh lintas agama beberapa waktu lalu yang menyebutkan pemerintah berbohong karena menyatakan jumlah penduduk miskin 2010 mencapai 31,02 juta jiwa, padahal jumlah penduduk yang menerima beras miskin 70 juta jiwa.
Dijelaskan, data untuk menghitung penerima beras miskin adalah data kemiskinan mikro yang merupakan jumlah penduduk miskin sebesar 31,02 juta jiwa ditambah penduduk hampir miskin yang mencapai 29,38 juta jiwa. "Seharusnya angka penerima raskin 60,4 juta jiwa karena dihitung dari 17,5 juta jumlah rumah tangga sasaran dikali jumlah anggota rumah tangga," katanya.
Kecuk menegaskan bahwa tidak ada dua angka kemiskinan yang dikeluarkan BPS karena data kemiskinan makro digunakan untuk menghitung perencanaan umum untuk pengentasan warga dari kemiskinan. Sementara data kemiskinan mikro yang terdiri atas jumlah penduduk miskin dan hampir miskin yang digunakan untuk pemberian bantuan, seperti raskin, BLT, dan Jamkesmas.
Dikatakan, program pengentasan warga dari kemiskinan seharusnya lebih memerhatikan karakteristik penduduk miskin, seperti tingginya perbedaan angka kemiskinan antarprovinsi, seperti antara Jakarta dan Papua. "Ini harus jadi perhatian apakah kebijakannya mau bersamaan seluruh provinsi atau fokus dari provinsi yang paling miskin," ujarnya.
Selain itu, pengentasan warga dari kemiskinan juga harus memerhatikan tingkat kemiskinan antara kota dan daerah yang menunjukkan bahwa kemiskinan tertinggi ada di pedesaan yang bekerja di sektor pertanian. "Disparitas kemiskinan antardaerah tinggi. Kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi dan budaya setempat karena tidak ada satu kebijakan kemiskinan yang cocok untuk semua daerah," katanya.      Upaya penanggulangan kemiskinan, lanjutnya, juga jangan hanya mengandalkan kebijakan di bidang sosial, politik, hukum, dan kelembagaan karena upaya penanggulangan kemiskinan harus dilakukan secara menyeluruh, terpadu lintas sektor, dan berkesinambungan.
Mengenai jumlah penduduk yang hampir miskin sebanyak 29,38 juta jiwa, Kecuk mengatakan, mereka sangat rentan jatuh menjadi golongan miskin, terutama kalau adanya gejolak harga pangan. "Seperti sekarang, kalau ada gejolak harga pangan, mereka akan berjatuhan menjadi golongan miskin," katanya.

source : Kompas